Sosial

16 Personel SATT Jalani Live In di Desa Simpung Layung, Guru Belajar dan Bersosialisasi Bersama Masyarakat

W

Wahyudi

15 Agustus 2026

3 menit baca
216 views
16 Personel SATT Jalani Live In di Desa Simpung Layung, Guru Belajar dan Bersosialisasi Bersama Masyarakat

Sebanyak 19 personel SATT, terdiri dari 16 guru dan 3 perwakilan Yayasan Mutiara Insan Saraba Kawa, tiba di Desa Simpung Layung pada 14 Agustus 2026 untuk mengikuti program Live In. Rombongan disambut Kepala Desa Suriansyah beserta perangkat desa dan seluruh ketua RT. Para guru dibagi ke RT 8, 11, dan 12 untuk tinggal bersama warga, bersosialisasi, membantu aktivitas masyarakat, serta belajar langsung dari kehidupan desa. Mereka juga akan terlibat dalam persiapan sedekah bumi dan kegiatan HUT RI. Sebagai bagian dari kegiatan sosial, SATT membawa pakaian layak pakai dan donasi orang tua siswa untuk dijual murah kepada masyarakat. Seluruh hasil penjualan akan diserahkan kepada pemerintah desa.

Simpung Layung, 14 Agustus 2026 — Rombongan program Live In Sekolah Alam Tanjung Tabalong (SATT) tiba di Desa Simpung Layung pada Jumat (14/8) sekitar pukul 15.30 WITA. Sebanyak 19 personel yang terdiri atas 16 guru, termasuk dua kepala sekolah, serta tiga perwakilan Yayasan Mutiara Insan Saraba Kawa, mengikuti program pembelajaran berbasis masyarakat tersebut.

Rombongan berangkat menggunakan dua mobil dan delapan sepeda motor. Salah satu mobil secara khusus membawa pakaian layak pakai yang nantinya akan dijual dengan harga murah dalam rangkaian kegiatan masyarakat desa.

Setibanya di Desa Simpung Layung, rombongan langsung disambut Kepala Desa Simpung Layung, Suriansyah, bersama jajaran perangkat desa dan seluruh ketua RT di Aula Desa Simpung Layung.

Acara penyambutan diawali dengan pantun oleh Irawan, selaku pembawa acara yang juga menjabat sebagai Kasi Pemerintahan Desa Simpung Layung. Setelah itu, sambutan disampaikan oleh Kepala Desa Suriansyah dan Direktur SATT, Wahyudi, S.Pd.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan serah terima rombongan dari pihak SATT dan Yayasan Mutiara Insan Saraba Kawa kepada Pemerintah Desa Simpung Layung. Direktur SATT menyerahkan kenang-kenangan kepada Kepala Desa sebagai simbol hubungan dan kerja sama antara sekolah dengan masyarakat desa.

Guru Dititipkan untuk Hidup Bersama Masyarakat

Dalam sambutannya, pihak SATT menyampaikan bahwa kegiatan Live In bukan sekadar kunjungan, tetapi menjadi sarana bagi para guru untuk belajar langsung dari kehidupan masyarakat.

Para guru dititipkan kepada masyarakat Desa Simpung Layung untuk bersosialisasi, membantu kegiatan warga, belajar bersama masyarakat, serta menjalani kehidupan sehari-hari sebagaimana warga setempat.

Sebanyak 16 guru kemudian dibagi menjadi tiga kelompok yang masing-masing akan tinggal di rumah warga di RT 8, RT 11, dan RT 12.

Selama berada di desa, para guru akan mengikuti berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari mengunjungi dan belajar dari pelaku UMKM, membantu kegiatan di kebun, mencari rumput untuk kambing, hingga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Tidak hanya itu, para guru juga akan dilibatkan dalam persiapan sedekah bumi dan berbagai kegiatan menyambut peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Baju Layak Pakai untuk Masyarakat

Salah satu kegiatan yang akan menjadi bagian dari rangkaian Live In adalah penjualan pakaian layak pakai dan barang-barang donasi dari orang tua siswa.

Barang-barang tersebut akan dijual dengan harga murah kepada masyarakat. Seluruh hasil penjualan nantinya akan diserahkan kepada Pemerintah Desa Simpung Layung untuk mendukung kegiatan dan kepentingan masyarakat desa.

Pada 16 Agustus 2026, para guru juga dijadwalkan mengikuti kegiatan jalan santai yang digelar masyarakat desa. Kehadiran para guru dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya SATT untuk membangun interaksi yang lebih dekat dan nyata dengan masyarakat.

Melalui program Live In ini, SATT tidak hanya ingin membawa guru untuk mengenal kehidupan desa, tetapi juga mendorong mereka untuk belajar tentang kesederhanaan, gotong royong, kemandirian, kepedulian, serta kearifan lokal langsung dari masyarakat.

Bagi SATT, desa bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, melainkan ruang belajar yang memungkinkan guru mengalami secara langsung kehidupan masyarakat dan menemukan nilai-nilai pendidikan yang tidak selalu diperoleh di dalam ruang kelas.

Bagikan artikel ini:

Artikel Terkait