Sosial

SATT Gelar Salat Istisqa, Tanamkan Kesadaran Ekologis dan Ketundukan kepada Allah

W

Wahyudi

4 September 2026

•
3 menit baca
•
120 views
SATT Gelar Salat Istisqa, Tanamkan Kesadaran Ekologis dan Ketundukan kepada Allah

Jumat pagi pukul 08.15 WITA, anak-anak Sekolah Alam Tanjung Tabalong (SATT) melaksanakan Salat Istisqa di lapangan area memanah sebagai ikhtiar memohon rahmat dan turunnya hujan kepada Allah SWT. Kegiatan diawali dengan istighfar dan memohon ampun, kemudian dilanjutkan salat dua rakaat sesuai tuntunan, dengan tujuh takbir pada rakaat pertama dan lima takbir pada rakaat kedua. Salat dan khutbah dipimpin oleh Bapak Rino Mahendra yang mengingatkan anak-anak tentang pentingnya kembali kepada Allah, memperbanyak istighfar, serta menjaga alam sebagaimana pesan dalam QS. Ar-Rum ayat 41. Melalui kegiatan ini, SATT menghadirkan pembelajaran langsung tentang ibadah, ketundukan kepada Allah, dan tanggung jawab manusia dalam menjaga bumi.

Tanjung, 4 September 2026 — Suasana berbeda tampak di lingkungan Sekolah Alam Tanjung Tabalong (SATT), Jumat pagi (4/9). Tepat pukul 08.15 WITA, para siswa berkumpul di lapangan area memanah untuk melaksanakan Salat Istisqa, sebagai bentuk ikhtiar dan doa bersama memohon turunnya hujan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kegiatan salat dan khutbah dipimpin oleh Bapak Rino Mahendra. Sebelum salat dimulai, anak-anak terlebih dahulu diajak untuk memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah. Dengan penuh kesadaran, mereka diajak merenungkan kembali bahwa manusia memiliki keterbatasan dan senantiasa membutuhkan pertolongan serta rahmat-Nya.

Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Salat Istisqa sebanyak dua rakaat sesuai tuntunan yang diajarkan dalam hadis. Pada rakaat pertama dilaksanakan tujuh kali takbir, sedangkan pada rakaat kedua lima kali takbir, sebelum membaca Al-Fatihah dan surah.

Dalam khutbahnya, Bapak Rino Mahendra mengajak para siswa untuk tidak hanya memandang hujan sebagai fenomena alam, tetapi juga sebagai salah satu bentuk rahmat dan tanda kebesaran Allah. Salah satu ayat yang disampaikan adalah firman Allah dalam QS. Ar-Rum ayat 41:

«ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ»

«“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

(QS. Ar-Rum: 41)»

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab dalam menjaga bumi. Pesan ini sangat relevan dengan pendidikan di SATT yang menjadikan alam bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga bagian penting dari proses pendidikan karakter dan kepedulian terhadap lingkungan.

Pelaksanaan Salat Istisqa juga menjadi momentum tarbiyah langsung bagi anak-anak. Mereka tidak hanya belajar tata cara ibadah, tetapi juga memahami makna di baliknya: ketika menghadapi kekeringan dan kesulitan, seorang muslim kembali kepada Allah dengan memperbanyak istighfar, bertobat, berdoa, dan berharap kepada rahmat-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabadikan nasihat Nabi Nuh 'alaihissalam kepada kaumnya:

«فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا»

«“Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.’”

(QS. Nuh: 10–11)»

Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ juga mencontohkan pelaksanaan Salat Istisqa ketika kaum muslimin mengalami kekeringan. Beliau keluar menuju tempat salat, menghadap kiblat, berdoa, dan memohon hujan kepada Allah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan suasana yang sederhana di ruang terbuka, anak-anak SATT diajak merasakan langsung bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Pagi itu, lapangan area memanah menjadi ruang belajar tentang tauhid, ibadah, lingkungan, kerendahan hati, dan tanggung jawab manusia terhadap alam.

Kegiatan ditutup dengan doa memohon agar Allah menurunkan hujan yang membawa manfaat, mencukupi kebutuhan makhluk-Nya, serta menjauhkan bumi dari kekeringan dan berbagai kerusakan.

Di antara doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ ketika memohon hujan adalah:

«اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا»

«“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”

(HR. Bukhari dan Muslim)»

Melalui Salat Istisqa ini, SATT tidak sekadar mengajarkan anak-anak bagaimana memohon hujan, tetapi juga kepada siapa manusia harus memohon, mengapa manusia perlu beristighfar, dan bagaimana seharusnya manusia memperlakukan bumi sebagai amanah dari Allah.

Bagikan artikel ini:

Artikel Terkait

Tanggap Kekeringan, Pemkab Tabalong Salurkan 3.600 Liter Air Bersih ke Sekolah Alam Tanjung Tabalong

Tanggap Kekeringan, Pemkab Tabalong Salurkan 3.600 Liter Air Bersih ke Sekolah Alam Tanjung Tabalong

Tanggap Krisis: Pemkab Tabalong menyalurkan 3.600 liter air bersih ke Sekolah Alam Tanjung Tabalong pada Rabu (16/9/2026) akibat dampak kekeringan. Bantuan terealisasi berkat koordinasi cepat Kepala Sekolah dengan Tim Percepatan Pembangunan Daerah (Agus Siswanto) yang mendatangkan tim BPBD Tabalong. Sekolah Alam Tanjung Tabalong menyampaikan terima kasih atas kepedulian dan aksi nyata Bupati Tabalong beserta seluruh jajaran Pemkab dan tim lapangan

SATT Gelar Bazar Barang Layak Pakai, Salurkan Rp1,52 Juta rupiah untuk Masyarakat Desa Simpung Layung

SATT Gelar Bazar Barang Layak Pakai, Salurkan Rp1,52 Juta rupiah untuk Masyarakat Desa Simpung Layung

Dalam rangkaian penutupan Live In Guru di Desa Simpung Layung, SATT menggelar bazar pakaian dan barang layak pakai bersamaan dengan kegiatan jalan santai pada 16 Agustus 2026. Barang donasi dari orang tua siswa dijual dengan harga Rp5.000–Rp25.000 dan berhasil mengumpulkan Rp1.520.000. Dana tersebut diserahkan oleh Kepala SD SATT, Rino Wahyu Bagus Mahendra, kepada Kepala Desa Simpung Layung untuk kepentingan masyarakat. SATT menyampaikan terima kasih kepada para donatur, warga, pemerintah desa, serta RT 8, 11, dan 12 atas dukungan selama kegiatan Live In.

16 Personel SATT Jalani Live In di Desa Simpung Layung, Guru Belajar dan Bersosialisasi Bersama Masyarakat

16 Personel SATT Jalani Live In di Desa Simpung Layung, Guru Belajar dan Bersosialisasi Bersama Masyarakat

Sebanyak 19 personel SATT, terdiri dari 16 guru dan 3 perwakilan Yayasan Mutiara Insan Saraba Kawa, tiba di Desa Simpung Layung pada 14 Agustus 2026 untuk mengikuti program Live In. Rombongan disambut Kepala Desa Suriansyah beserta perangkat desa dan seluruh ketua RT. Para guru dibagi ke RT 8, 11, dan 12 untuk tinggal bersama warga, bersosialisasi, membantu aktivitas masyarakat, serta belajar langsung dari kehidupan desa. Mereka juga akan terlibat dalam persiapan sedekah bumi dan kegiatan HUT RI. Sebagai bagian dari kegiatan sosial, SATT membawa pakaian layak pakai dan donasi orang tua siswa untuk dijual murah kepada masyarakat. Seluruh hasil penjualan akan diserahkan kepada pemerintah desa.