Parenting

SATT Gelar Sesi Konseling untuk Mendamaikan Siswa dan Mencegah Perundungan di Sekolah

W

Wahyudi

11 Agustus 2026

3 menit baca
132 views
SATT Gelar Sesi Konseling untuk Mendamaikan Siswa dan Mencegah Perundungan di Sekolah

Sekolah Alam Tanjung Tabalong (SATT) menggelar sesi konseling bersama dua siswa yang mengalami perselisihan. Kegiatan yang dilakukan saat jam istirahat ini melibatkan Wakasek Kesiswaan, Kepala Sekolah, dan Direktur SATT, setelah mendapat informasi dari wali kelas. Melalui dialog dan pendampingan, siswa diajak untuk saling memahami, memaafkan, menghargai teman, serta tidak melakukan ejekan yang dapat menyakiti perasaan. SATT juga mengingatkan bahwa konflik dan candaan berlebihan dapat terjadi dalam pertemanan anak usia SD. Namun, setiap tindakan yang merugikan, membahayakan, atau telah melampaui batas harus segera ditangani. Sekolah berharap komunikasi dan kerja sama antara sekolah, anak, dan orang tua terus terjalin agar tercipta lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan.

Tanjung, Tabalong — Lingkungan sekolah yang aman dan nyaman tidak hanya dibangun melalui aturan, tetapi juga melalui komunikasi, pendampingan, dan kemampuan untuk menyelesaikan konflik dengan cara yang sehat.

Hal tersebut menjadi perhatian Sekolah Alam Tanjung Tabalong (SATT). Pada Selasa (11/8), saat jam istirahat, Wakasek Kesiswaan, Kepala Sekolah, dan Direktur SATT melakukan sesi konseling bersama dua siswa yang sebelumnya terlibat perselisihan. Pertemuan tersebut dilakukan setelah pihak sekolah mendapatkan informasi dari wali kelas mengenai adanya konflik di antara keduanya.

Sesi konseling ini tidak dimaksudkan untuk mencari siapa yang salah atau memberikan label kepada salah satu anak, melainkan menjadi ruang bagi kedua siswa untuk menyampaikan perasaan, memahami sudut pandang satu sama lain, serta belajar menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik.

Dalam pendampingan tersebut, anak-anak diajak untuk memahami pentingnya saling memaafkan, tidak saling mengejek, saling memahami, dan menghargai teman. Mereka juga diarahkan untuk menyadari bahwa perkataan atau candaan yang menurut seseorang dianggap biasa, belum tentu dirasakan sama oleh teman yang menerimanya.

Belajar Membedakan Candaan dan Tindakan yang Melampaui Batas

Pada usia sekolah dasar, bermain, bercanda, dan berselisih merupakan bagian dari proses anak belajar bersosialisasi. Dalam interaksi sehari-hari, terkadang muncul candaan yang berlebihan, salah memahami perkataan teman, atau konflik kecil yang kemudian berkembang menjadi pertengkaran.

Karena itu, anak perlu dibimbing untuk memahami bahwa bercanda tetap memiliki batas. Candaan tidak seharusnya membuat teman merasa takut, terhina, tertekan, atau dirugikan.

Di sisi lain, anak juga perlu belajar bahwa tidak setiap konflik antarteman secara otomatis dapat disebut sebagai bullying. Ada perbedaan antara konflik sesaat, candaan yang berlebihan, dan tindakan perundungan yang dilakukan secara menyakiti atau merugikan.

Namun demikian, apabila sebuah tindakan sudah membahayakan, merugikan, dilakukan dengan sengaja untuk menyakiti, berulang, atau melampaui batas yang wajar, maka pihak sekolah perlu segera mengambil tindakan dan memberikan pendampingan yang tepat.

Sekolah dan Orang Tua Perlu Saling Memahami

SATT memandang bahwa penyelesaian persoalan anak tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah. Orang tua dan sekolah memiliki peran yang sama penting dalam membantu anak belajar mengelola emosi dan membangun hubungan yang sehat dengan teman.

Orang tua juga diharapkan dapat memahami bahwa pada usia sekolah dasar, anak masih berada dalam proses belajar mengenali emosi, mengendalikan diri, memahami perasaan orang lain, serta menyelesaikan konflik.

Demikian pula, ketika terjadi persoalan antaranak, komunikasi antara orang tua perlu dijaga agar tetap tenang dan saling memahami. Tujuannya bukan memperbesar masalah atau mencari pihak yang harus disalahkan, melainkan mencari solusi terbaik agar anak-anak dapat kembali merasa aman dan belajar dari pengalaman tersebut.

Konflik Bisa Menjadi Pembelajaran

Bagi SATT, setiap persoalan yang muncul di lingkungan sekolah dapat menjadi bagian dari proses pendidikan karakter.

Anak tidak hanya perlu belajar membaca, berhitung, dan memahami ilmu pengetahuan. Mereka juga perlu belajar bagaimana meminta maaf, memaafkan, mengendalikan emosi, menghargai perasaan orang lain, menyelesaikan perbedaan, dan bertanggung jawab atas tindakan mereka.

Karena itu, sesi konseling seperti ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar sekolah untuk membangun budaya sekolah yang aman, saling menghargai, dan bebas dari perundungan.

Sekolah berharap kedua siswa dapat mengambil pelajaran dari kejadian tersebut dan kembali membangun hubungan pertemanan yang lebih baik. Lebih jauh, kejadian ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh warga sekolah bahwa menjadi teman yang baik bukan berarti tidak pernah berbeda pendapat, tetapi mampu menyelesaikan perbedaan tanpa menyakiti satu sama lain.

Pada akhirnya, pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama. Sekolah mendampingi, orang tua menguatkan, dan anak-anak belajar. Dengan komunikasi yang baik antara ketiganya, setiap konflik dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa, empatik, dan bertanggung jawab.

Bagikan artikel ini:

Artikel Terkait